Pandangan Orang
“Mmh iya, masalah uang aku setuju. Tapi bagaimana dengan
pandangan orang bukankah itu penting? Kita tidak akan bahagia jika pandangan
orang buruk terhadap kita, dan sebaliknya kita akan bahagia jika pandangan
orang baik terhadap kita.” Ok kita hidup di dunia yang dihuni miliaran orang
yang berbeda pendapat, yang mempunyai pemikirannya masing-masing terhadap suatu
hal. Tentu ada pro dan kontra. Ada yang setuju dan tidak. Kita tidak bisa
mengharapkan miliaran orang tersebut berpikiran sama dengan kita, atau setuju
dengan kita. Jika mengharapkan pendapat orang, kita justru akan merasa gelisah.
Kepana? Kita akan khawatir pandangan orang yang kontra, hal buruk yang selama
ini kita pikirkan akan berbalik kepada kita, Kita akan merasa tak dapat hidup
dengan tenang. Dari sini saja dapat disimpulkan pandangan orang bukanlah
kebahagiaankan?
Kita akan membahas hal ini lebih lanjut. Dari pandangan
orang akan menghasilkan yang namanya kesenangan, kesediahan. Keberanian,
ketakutan. Mendapatkan stimulus dan menciptakan respon. Stimulus yang didapat
bisa saja baik ataupun buruk, dan menciptakan respon yang baik maupun buruk.
Ada cerita seperti ini. Seorang artis
seni rupa, yang men-share lukisannya
kesuatu social media. pada hari pertama dia mendapat pujian karena lukisannya
indah, lantas si artis merasa senang. Keesokan harinya ada beberapa orang yang
mengatakan tema lukisannya monoton, temanya sama dengan lukisan-lukisan yang di
bagikan beberapa waktu lalu. Warnanya terlalu plain, tidak fullcolor, bertolak
belakang dengan tema, dan membandingkannya dengan artis-artis lainnya, yang
lukisannya jauh lebih bagus darinya. Dari pendapat ini si artis merasa sedih,
dan ketakutan akan ada pendapat lain yang kontra. Dia tidak membuka Sosial
medianya beberapa hari, dan dalam beberapa hari tersebut dia tidak produktif,
tak membuat karya-karya yang biasa dia buat rutin.
Cerita kedua. Ada pengguna social media, seorang anak SMA. Dia membuat status,
menuangkan pendapatnya, pengalamannya, dan pengakuannya keteman-temannya. Lalu
ada yang setuju dengannya, ada yang tidak setuju dengannya, bahkan mencelanya
dengan kalimat kasar. Anak SMA tersebut tidak Bergeming dengan
pendapat-pendapat yang ada, dia hanya berniat membuat status yang berdasarkan
pengalamannya, tidak peduli dengan pro dan kontra. Dia malah membuat komen
untuk lanjutan dari statusnya tanpa merasa khawatir atau gelisah oleh pendapat
orang.
Dari kedua pengalam
tersebut kira-kira apa bedanya? Yah, si artis terlalu pedulu dengan pendapat
orang. Dia senang ketika ada yang memujinya, dan sedih ketika ada yang
menghinanya. Lalu si anak SMA tak peduli dengan pendapat orang. Dia tidak
merasa senang ketiika ada yang memujinya, dan tidak sedih ketika ada yang
menghinanya. Dari kedua cerita ini, yang menjadi kesalahan adalah respon dari
stimulus tersebut. Si artis membuat pola seperti ini:
Jika dipuji (stimulus) maka akan “Senang” (respon), Jika dihina
(stimulus) maka akan “sedih” (respon).
Sedangkan anak SMA
seperti ini:
Jika dipuji (stimulus) maka “Tak apa apa” (respon), Jika dihina
(stimulus) maka “tak apa apa” (respon).
Pola pikir seperti si artislah yang membuat tidak bahagia. Karena
dipuji bukan berarti kita harus senang, hal tersebut membuat kita akan merasa
melayang senang, lalu membuat candu dipuji, ketika terjadi candu maka akan
menimbulkan ketergantungan, lalu jika tidak ada pujian walau tidak ada hinaan
dia akan merasa sedih. Karena ada hinaan bukan berarti kita harus sedih. Belum
tentu pendapat yang dilontarkannya adalah benar, jika benarpun kita jangan
lantas bersedih, kita perbaiki kesalahan dan menjadi orang yang lebih baik,
orang hebat ada karena melakukan banyak kesalahan. Yang jadi pilihan apakah
kita akan meyerah atau memperbaiki kesalahan.
Dan pola pikir seperti anak SMA merupakan pola pikir yang
bagus. Dia tidak akan melayang karena pujiaan, dan terpuruk karena hinaan.
Orang hebat, ketika dia mendapatkan pujian dan hinaan perasaan yang didapatnya
adalah sama yaitu “Tak apa apa” (respon). Pada saat orang sudah mendapatkan pola
pikir dan hati seperti ini, orang tersebut akan menjadi lebih baik secara
konsisten (dengan melihat pendapat orang secara objektif, tanpa diselimuti
perasaan yang sensitif), tanpa ada penurunan yang signifikan (dari orang-orang
yang memberi stimulus, baik positif atau/dan negatif).
Kebahagiaan bukan karena pandangan orang. Tetapi ketika kita
bisa merespon pendapat dari orang-orang dengan tenang tanpa memasukannya
kedalam hati. Dan tetapi mengabil makna dari pendapat yang ada.
Mungkin akan sulit
untuk menciptakan pola pikir dan hati, “Tak apa apa” untuk pujian maupun
hinaan. Namun ketika sudah mendapatkan pola pikir dan hati seperti ini, kita
akan mempunyai ability tegar dalam
menerima pandangan dari dunia ini, dan mendapatkan kebahagiaan secara konsisten.
Komentar
Posting Komentar